Jagung Malam
Hujan bintang di atas halaman rumah sederhana milik kami, makhluk ciptaan Tuhan itu seolah ikut tertawa meramaikan pesta kecil yang dibuat Bapak. Malam ini kami pesta jagung bakar. Sebenarnya ini hanya salah satu dari sekian banyak kebiasaan dikeluarga kami, namun untuk malalm ini ada pengecualian, agak sedikit spesial. Menurutku.
Dingin. Menyejukkan.
“ Ayo, mulai bakar batok kelapanya !” Suara Bapak nyaring terdengar. Ditengah ribuan dan jutaan hasil karya Sang Khalik lainnya, suara itu kini menjadi satu-satunya suara yang ku nantikan kini. Suara yang terus membuatku berjanji untuk membanggakan pemiliknya. Dia, Bapakku.
Selepas Isya berjama’ah, Bapak dan Mamak ternyata sudah merencanakan segalanya untuk malam ini. Tak ayal lagi, kami bertiga pun bersorak. Seumpama sang pemain penyerang andalan dengan mulusnya mampu menjebol gawang lawan tanpa ampun. Sebenarnya kami hanya bertiga, aku, Zira dan Langit. Namun suara yang kami hasilkan melebihi teriakan seribu penonton. Di halaman rumah sederhana itu, Mamak dibantu Zira mulai mempersiapkan segala sesuatunya. Sementara itu, aku dan Bapaklah yang akan memetik jagung di ladang. kami sibuk dengan senter masing-masing. Bapak mengatakan bahwa jagung-jagung itu baru boleh dipetik saat akan digunakan saja. “Biar lebih manis” begitu jelas beliau.
Aku berjalan persis di belakang Bapak, harus seperti itulah formasinya. Karena akses menuju ladang hanya bisa di lalui lewat galengan yang membelah petakan sawah, yaitu sejenis jalan kecil yang sengaja di desain seminim mungkin. Mustahil kami bisa berjalan bersisian. Aku bernyanyi untuk memecah kesunyian.
“ Tadi berdo’a apa saja ?” Bapak bertanya santai padaku.
“ Do’a orang tua” Jawabku tak kalah santai sembari memutar-mutar senter kecilku.
“Hanya itu ?” Tanya beliau lagi. “ya” Balasku lagi, kali ini diiringi anggukan ringan.
“ Jangan begitu, kalau berdo’a. Kau harus ingat saudara, teman, guru juga”. Katanya mantap.
Bah apa pula ini.
“ Allah itu Maha Adil, setidaknya kita manusia berusaha untuk bisa mengamalkan Asma Adil Allah. Adil berbagi do’a untuk yang lain. Itu saja dulu yang kau lakukan” Bapak menambahi.
Mak...
Aku diceramahi, Bapakku bukanlah lulusan sekolah tinggi. Kau dengar kawan, apa yang baru saja beliau katakan ! Selevel dengan Ustadz-Ustadz yang menyandang Sarjana Agama di belakangnya. Atau mungkin Haji Doktor di depannya.
“Kanjeng Nabi mengatakan apabila kita ingin hidup tenang, maka harus menjadi orang yang berguna untuk orang lain. Jadi kau bisa mulai dari yang termudah. Berdo’a yang baik-baik bagi orang-orang di sekitar kau.”
Bapak berjalan terus, sementara aku hampir terjatuh ke sawah dibuatnya. Kau dengar lagi kawan ! Apa yang diucapkan Bapakku. Ah, ingat bahwa Bapakku itu bukanlah seorang Ustadz apalagi Haji Doktor. Dia hanya seorang yang senang mendengar cerita anak-anaknya. Gemar meminum kopi setiap pagi, siang, sore bahkan malam hari. But, look at that. He is my superhero. Pahlawan yang berjuang lewat petuah Rasulullah.
Bapak sudah sekitar sepuluh langkah di depanku. Beliau sudah masuk kedalam lorong-lorong yang penuh sesak oleh jagung. Santai memilih yang terbaik. Setelah mampu mengejarnya dan sampai di lorong jagung terdepan, aku reflex langsung memetik membabi buta setiap jagung yang terlihat di depan mata. Namun, baru saja aku memetik lima jagung Bapak terpaksa menghentikan aksi bar-barku.
“ Pelan-pelan. Jagung juga makhluk Tuhan, jadi jangan perlakukan mereka dengan semena-mena. Jika saja Gusti Allah mengizinkan agar kau bisa mendengar jeritan jagung-jagung ini, pasti kau akan kalang kabut dibuatnya.” Jelas Bapak kepadaku, namun aku hanya menunjukkan senyum lebarku.
Tak berapa lama kami pun selesai. Aku merasa bahwa galengan yang kami injak ini semakin kecil saja. Aku mulai kewalahan melewatinya, ditambah lagi dengan berat jagung yang kubawa. Tersiksa sekali kawan. Kali ini aku yang berjalan di depan, memimpin Bapak yang berjalan di belakangku. Bapak hanya tertawa melihatku yang berjalan dengan terhuyung-huyung, bukannya membantu beliau malah mengingatkanku agar aku tidak melupakan pesan yang diberikannya padaku.
“ Dimana pun kau berada, tetaplah berdo’a untuk kebaikanmu dan orang-orang yang kau cintai” Ucap beliau lugas. Aku membalasnya dengan anggukan mantap.
Akhirnya sampai juga kami di halaman rumah. Zira dan Mamak langsung membantuku, sementara Langit sibuk melampiaskan kemarahannya pada Bapak karena tidak diizinkan untuk ikut memetik jagung. Showtime. Pesta pun dimulai. Pedih. Sakit. Gatal sekali rasanya. Hebat nian efek yang dihasilkan asap ini. Sehingga mampu membuat Zira untuk menggunakan penutup mata saat membakar jagung-jagung itu. Dan selanjutnya bisa ditebak, jagung bakar yang dihasilkan adik perempuanku itu menjadi hitam legam. Alhasil Mamak pun mengomel panjang. Selesai Mamak menghakimi Zira karena ulahnya, jagung bakar pun siap dinikmati.
Dingin. Menyejukkan. Menghangatkan.
Angin yang lembut membelai kulit, sapaannya memberi ketenangan. Bintang yang tersenyum ramah, begitu terasa dekat. Keduanya seperti telah sepakat untuk ikut menemani kebersamaan kami malam ini. Zira dan Langit berlomba menghabiskan bagian masing-masing secepat mereka bisa mengunyahnya. Takut ada yang menjarah dan mengincar jagung dari tangan mereka. Dan akulah yang dianggap sebagai common enemy. Betapa kejam mereka berdua.
Tiba-tiba suasana hening sesaat, entah apa sebabnya. Aku melirik ke arah Bapak, dan dengan raut wajah santai berwibawa terlihat bahwa beliau ingin bercerita. Memecah kesunyian yang sempat melanda. Cerita beliau kali ini adalah cerita yang sama dengan minggu lalu, saat kami berkumpul di teras depan rumah. Yaitu cerita tentang burung pipit dan 3 anaknya. Sejujurnya aku bosan mendengar kisah itu, namun hal ini tidak berlaku bagi Langit. Adik laki-lakiku itu selalu saja bersemangat mendengarkan cerita Bapak.
“ Nah, jadi dari cerita itu sebenarnya Bapak punya pesan untuk kakak kalian” Setelah mengakhiri ceritanya, kini giliran suara Mamak yang menggema. Ibu Suri tengah menyinggungku. Aku pun memasang wajah siap bertanya bercampur bingung.
“ Begini...” Bapak angkat bicara, aku masih menunggu kelanjutannya.
“ Kalau nanti kau sudah berada di ibukota, belajarlah yang benar. Tidak ada yang sia-sia dalam hidup. Buat bangga Bapak Mamak kau ini, belajar bertanggung jawab untuk diri kau sendiri. Kami hanya bisa berdo’a, kaulah yang berusaha.”
Aku mengerti sekarang, itulah tujuan acara jagung malam ini.
..........................................................
Pukul 00.00 WIB
Kini, aku di dalam kamar kosku, ditemani tumpukan buku dan komputer pentium 4 ku. Merasa bahwa aku tidak sedang di sini sekarang. Aku seperti sedang menyaksikan dengan jelas semua adegan saat jagung malam 3 tahun yang lalu itu. Aku tergelitik untuk bertanya, mengapa Mamak sedikit sekali bicara malam itu. Setelah berpikir sejenak, aku menarik kesimpulan bahwa mungkin Mamak tidak sanggup mengucapkan kata perpisahan padaku. Dan selanjutnya Mamak mengalihkannya pada Bapak agar berbicara mewakili dirinya. Mamak. Ada-ada saja.
Aku yang saat ini tengah belajar ilmu filsafat, sangat tertolong dengan pengantar yang diberikan Bapak padaku pada acara jagung malam kala itu. Yang ternyata juga sejalan dengan pemikiran seorang tokoh besar filsafat, Sokrates. Saat Bapak mengutip ucapan Rasulullah bahwa hidup haruslah berguna bagi orang lain dan mulai mendo’akan orang yang dicintai, Sokrates pun mengatakan hal yang senada. Bahwa ho de aneksetastos bios ou biÒtos anthrÒphÒi, yang berarti hidup yang tidak bermakna adalah hidup yang tidak layak untuk di jalani.
Tapi, detik ini aku sedih mendengar jawaban Mamak atas pertanyaan ku selama ini. Kenyataan memang selalu menyakitkan kawan, terkadang. Saat aku berkata bahwa aku ingin tahu alasan Mamak bersikap demikian, malam ini juga tubuhku lemas mendengarnya.
“ Waktu itu Mamak banyak diam bukan berarti Mamak sedih. Mamak hanya bingung memikirkan siapa nanti yang akan menggantikan kau mencuci piring-piring kotor dirumah ini, baju-baju apek yang telah dipakai. Kalau kau pergi, siapa yang akan mengerjakan semua itu ?”
Tuuuuttt........tuuuuuutttt......tuuuuuuttttt.....
Pulsaku habis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar