Jumat, 10 Juni 2011

Dear my best...




September 2008
Ini pertama kalinya aku jauh dari rumahku.
Meninggalkan kehangatan keluarga untuk beberapa waktu, dan belajar di kota besar. Impianku detik ini adalah mendapat gelar sarjana secepat mungkin. Bertemu wajah-wajah baru, penuh semangat. Aku harus menjadi sosok mandiri kini, berani mengambil keputusan serta bertanggung jawab. Tak boleh lagi ada rengekan manja. Ayah Ibu hanya boleh mendengar kabar yang baik saja.
Ayo, silakan turun. Kita sudah sampai. Suara lembut milik kakak berambut hitam itu memecah lamunanku. Wanita yang kurasa cukup cantik dan pintar itu telah mengantarkan aku dan beberapa anak yang lain menuju asrama kami. Kampus menyediakan tempat tinggal bagi pelajar yang datang dari luar daerah ibukota, dan akulah salah satunya yang beruntung.
Selamat datang. Seseorang menyambut kedatangan kami, kedua tangannya berusaha keras mengangkat koper besar yang ada di pintu masuk. Ingin memberi jalan, mungkin.
            Apa yang kami sebut asrama ini sebenarnya adalah rumah yang terdiri dari dua bagian besar. Pertama adalah rumah itu sendiri dan yang kedua adalah sebuah ruangan terpisah di bagian depan yang berisi meja dan kursi serta pendingin ruangan. Aku mulai mengamati lingkungan baruku, beradaptasi agar semuanya berjalan lancar. Ternyata sudah banyak anak-anak lain di dalam rumah, aku merasa lega karena yang kulihat adalah wajah-wajah baru penuh semangat.
Pagi menjelang siang kali ini aku telah berada ribuan km dari tanah asal kelahiranku. Sedikit cemas memang, namun ini pilihanku. Tuhan akan selalu membuka jalan bagi makhluknya yang bertekad kuat, aku percaya itu. Rindangnya kerumun daun mangga di sudut kiri halaman memberiku ketenangan tersendiri. Entahlah, aku merasa aku akan memiliki tempat tinggal yang tak jauh berbeda dari sebelumnya. Mentari di kota metropolitan ini seperti ikut tersenyum menunggu kehadiranku.

Hai, jangan melamun. Seseorang menepuk pundakku pelan, aku yakin gadis berkerudung yang tengah ada di sampingku adalah keturunan sunda tulen. Dan teoriku benar setelah beberapa saat kemudian kami saling bicara. Aku dan enambelas anak lainnya akan tinggal bersama selama kurang lebih dua tahun lamanya. Tak butuh waktu panjang, aku segera mendapatkan kamar tidurku. Sebuah ruang yang tidak  terlalu kecil dan tidak juga besar, kami berenam memulai hidup baru menjadi seorang mahasisiwi rantau. Dan temanku yang lain dengan kamar masing-masing.

September 2010
Semuanya baik-baik saja, harapanku.
Dan aku pun sadar bahwa tidak mungkin sesuatu yang bermakna akan berjalan baik-baik saja. Akan selalu ada kemungkinan serta kesempatan terburuk yang bisa menyapa di tiap tikungan hidup, kapanpun itu tanpa dapat dihindari. Tapi, aku juga sadar bahwa hal-hal buruk masih bisa dan akan tetap bisa dicegah, sekalipun menyesakkan. Aku selalu yakin, aku yakin akulah si pemberani yang mampu bertanggung jawab atas semua tindakanku.
Hidup seatap dengan orang-orang baru, dengan kepribadian yang berbeda-beda, dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing membuat aku mau tidak mau harus belajar akan banyak hal. Mencoba memahami apa itu makna berbagi, pentingnya toleransi, bahkan arti sebuah kehidupan. Entah itu tawa atau amarah, canda atau ego, itulah hal terbaik dalam kebersamaan. Kenangan awal itu kembali muncul bak kepingan film yang merajuk untuk di putar lagi, lagi lagi dan lagi. Aku seperti sengaja dibuat melek oleh Tuhan, bahwa hidup tak mungkin dijalani sendiri. Butuh sosok lain sebagai penyeimbang.
Pasti bisa, dan harus selalu bisa. Jadilah yang terbaik. Tidak akan ada yang sia-sia, semua tentu punya tujuan. Lakukan yang seharusnya dilakukan, jangan menyerah pada keadaan. Batin dan pikiranku tengah berdiskusi.
Jika menghormati saja tidak sanggup, bagaimana mungkin untuk dihormati. Jika mengatakan maaf saja terasa berat, bagaimana bisa memaafkan. Jika terus tertutup, bagaimana mampu menerima. Jika terus begini, bagaimana akhirnya. Konferensi batin dan pikiranku terus saja bergulir. Aku mengambil napas panjang, berbisik dan tersenyum“happy ending.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar