Kamis, 22 Desember 2011


bening

Kenaikan kelas tahun ini adalah kebahagiaan tersendiri bagi Bening. Artinya ia masih bisa bersekolah lagi, belajar dan bercanda bersama teman dan guru. Berbagi cerita hebat, berebut tawa suka. Batinnya berucap pelan Terima kasih ya Allah atas karuniaMu pada keluargaku.
Ini kisah Bening, kawan.
Makhluk Tuhan yang terus berusaha mensyukuri pemberian-Nya, apa pun itu. Tak peduli cerah maupun kabut, terang maupun gulita, tenang maupun sepi, anugerah bahkan duka. Bening tetaplah Bening. Angin kencang tak bisa merobohkannya, awan kelabu tak jua membutakannya. Karena ia punya Tuhan yang mampu menolongnya. Bening tetaplah Bening. Berterima kasih adalah langkah awal bagi kebahagiaan hidup, inilah yang menjadi pegangan seorang Bening. Tuhan akan selalu ada untuk makhluk-Nya yang tahu diri. Tak pernah berburuk sangka, apalagi menghina. Bening tetaplah Bening.
Kejernihan hati Bening seolah menjadi oase ditengah kepicikan dalam hidup. (Sebagian) manusia sering lalai akan tugasnya di hamparan bumi Tuhan ini. Saat amanah penting Tuhan terabaikan, saat itu pula manusia menjadi rendah. Saat kesombongan meraja, saat itu pula hidup terjajah. Bening tetaplah Bening. Ia berjuang keras untuk menjadi Bening yang jernih. Tuhan pasti mendengar suaranya, mengerti apa yang diinginkannya dan memberi apa yang dibutuhkannya. Bening tetaplah Bening.
Ia mengajarkan kerendahan hati, karena manusia tak pantas dipuja. Ia menumbuhkan kesabaran, karena manusia terlalu serakah. Ia membagi kasih, karena Tuhan tak pernah tidur. Ia terus berdiri memberi yang terbaik. Bening, Bundaku.

Jumat, 10 Juni 2011

Dear my best...




September 2008
Ini pertama kalinya aku jauh dari rumahku.
Meninggalkan kehangatan keluarga untuk beberapa waktu, dan belajar di kota besar. Impianku detik ini adalah mendapat gelar sarjana secepat mungkin. Bertemu wajah-wajah baru, penuh semangat. Aku harus menjadi sosok mandiri kini, berani mengambil keputusan serta bertanggung jawab. Tak boleh lagi ada rengekan manja. Ayah Ibu hanya boleh mendengar kabar yang baik saja.
Ayo, silakan turun. Kita sudah sampai. Suara lembut milik kakak berambut hitam itu memecah lamunanku. Wanita yang kurasa cukup cantik dan pintar itu telah mengantarkan aku dan beberapa anak yang lain menuju asrama kami. Kampus menyediakan tempat tinggal bagi pelajar yang datang dari luar daerah ibukota, dan akulah salah satunya yang beruntung.
Selamat datang. Seseorang menyambut kedatangan kami, kedua tangannya berusaha keras mengangkat koper besar yang ada di pintu masuk. Ingin memberi jalan, mungkin.
            Apa yang kami sebut asrama ini sebenarnya adalah rumah yang terdiri dari dua bagian besar. Pertama adalah rumah itu sendiri dan yang kedua adalah sebuah ruangan terpisah di bagian depan yang berisi meja dan kursi serta pendingin ruangan. Aku mulai mengamati lingkungan baruku, beradaptasi agar semuanya berjalan lancar. Ternyata sudah banyak anak-anak lain di dalam rumah, aku merasa lega karena yang kulihat adalah wajah-wajah baru penuh semangat.
Pagi menjelang siang kali ini aku telah berada ribuan km dari tanah asal kelahiranku. Sedikit cemas memang, namun ini pilihanku. Tuhan akan selalu membuka jalan bagi makhluknya yang bertekad kuat, aku percaya itu. Rindangnya kerumun daun mangga di sudut kiri halaman memberiku ketenangan tersendiri. Entahlah, aku merasa aku akan memiliki tempat tinggal yang tak jauh berbeda dari sebelumnya. Mentari di kota metropolitan ini seperti ikut tersenyum menunggu kehadiranku.

Hai, jangan melamun. Seseorang menepuk pundakku pelan, aku yakin gadis berkerudung yang tengah ada di sampingku adalah keturunan sunda tulen. Dan teoriku benar setelah beberapa saat kemudian kami saling bicara. Aku dan enambelas anak lainnya akan tinggal bersama selama kurang lebih dua tahun lamanya. Tak butuh waktu panjang, aku segera mendapatkan kamar tidurku. Sebuah ruang yang tidak  terlalu kecil dan tidak juga besar, kami berenam memulai hidup baru menjadi seorang mahasisiwi rantau. Dan temanku yang lain dengan kamar masing-masing.

September 2010
Semuanya baik-baik saja, harapanku.
Dan aku pun sadar bahwa tidak mungkin sesuatu yang bermakna akan berjalan baik-baik saja. Akan selalu ada kemungkinan serta kesempatan terburuk yang bisa menyapa di tiap tikungan hidup, kapanpun itu tanpa dapat dihindari. Tapi, aku juga sadar bahwa hal-hal buruk masih bisa dan akan tetap bisa dicegah, sekalipun menyesakkan. Aku selalu yakin, aku yakin akulah si pemberani yang mampu bertanggung jawab atas semua tindakanku.
Hidup seatap dengan orang-orang baru, dengan kepribadian yang berbeda-beda, dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing membuat aku mau tidak mau harus belajar akan banyak hal. Mencoba memahami apa itu makna berbagi, pentingnya toleransi, bahkan arti sebuah kehidupan. Entah itu tawa atau amarah, canda atau ego, itulah hal terbaik dalam kebersamaan. Kenangan awal itu kembali muncul bak kepingan film yang merajuk untuk di putar lagi, lagi lagi dan lagi. Aku seperti sengaja dibuat melek oleh Tuhan, bahwa hidup tak mungkin dijalani sendiri. Butuh sosok lain sebagai penyeimbang.
Pasti bisa, dan harus selalu bisa. Jadilah yang terbaik. Tidak akan ada yang sia-sia, semua tentu punya tujuan. Lakukan yang seharusnya dilakukan, jangan menyerah pada keadaan. Batin dan pikiranku tengah berdiskusi.
Jika menghormati saja tidak sanggup, bagaimana mungkin untuk dihormati. Jika mengatakan maaf saja terasa berat, bagaimana bisa memaafkan. Jika terus tertutup, bagaimana mampu menerima. Jika terus begini, bagaimana akhirnya. Konferensi batin dan pikiranku terus saja bergulir. Aku mengambil napas panjang, berbisik dan tersenyum“happy ending.”

Minggu, 22 Mei 2011

a story


Jagung Malam


Hujan bintang di atas halaman rumah sederhana milik kami, makhluk ciptaan Tuhan itu seolah ikut tertawa meramaikan pesta kecil yang dibuat Bapak. Malam ini kami pesta jagung bakar. Sebenarnya ini hanya salah  satu dari sekian banyak kebiasaan  dikeluarga kami, namun untuk malalm ini ada pengecualian, agak sedikit spesial. Menurutku.
Dingin. Menyejukkan.
Ayo, mulai bakar batok kelapanya ! Suara Bapak nyaring terdengar. Ditengah ribuan dan jutaan hasil karya Sang Khalik lainnya, suara itu kini menjadi satu-satunya suara yang ku nantikan kini. Suara yang terus membuatku berjanji untuk membanggakan pemiliknya. Dia, Bapakku.
Selepas Isya berjama’ah, Bapak dan Mamak ternyata sudah merencanakan  segalanya untuk malam ini. Tak ayal lagi, kami bertiga pun bersorak. Seumpama sang pemain penyerang andalan dengan mulusnya mampu menjebol gawang lawan tanpa ampun. Sebenarnya kami hanya bertiga, aku, Zira dan Langit. Namun suara yang kami hasilkan melebihi teriakan seribu penonton. Di halaman rumah sederhana itu, Mamak dibantu Zira mulai mempersiapkan segala sesuatunya. Sementara itu, aku dan Bapaklah yang akan memetik jagung di ladang. kami sibuk dengan senter masing-masing. Bapak mengatakan bahwa jagung-jagung itu baru boleh dipetik saat akan digunakan saja. “Biar lebih manis” begitu jelas beliau.
Aku berjalan persis di belakang Bapak, harus seperti itulah formasinya. Karena akses menuju ladang hanya bisa di lalui lewat galengan yang membelah petakan sawah, yaitu sejenis jalan kecil yang sengaja di desain seminim mungkin. Mustahil kami bisa berjalan bersisian. Aku bernyanyi untuk memecah kesunyian.
  Tadi berdo’a apa saja ? Bapak bertanya santai padaku.
Do’a orang tua Jawabku tak kalah santai sembari memutar-mutar senter kecilku.
Hanya itu ? Tanya beliau lagi. yaBalasku lagi, kali ini diiringi anggukan ringan.
Jangan begitu, kalau berdo’a. Kau harus ingat saudara, teman, guru juga”. Katanya mantap.
Bah apa pula ini.
Allah itu Maha Adil, setidaknya kita manusia berusaha untuk bisa mengamalkan Asma Adil Allah. Adil berbagi do’a untuk yang lain. Itu saja dulu yang kau lakukan Bapak menambahi.
Mak...
Aku diceramahi, Bapakku bukanlah lulusan sekolah tinggi. Kau dengar kawan, apa yang baru saja beliau katakan ! Selevel dengan Ustadz-Ustadz yang menyandang Sarjana Agama di belakangnya. Atau mungkin Haji Doktor di depannya.
Kanjeng Nabi mengatakan apabila kita ingin hidup tenang, maka harus menjadi orang  yang  berguna untuk orang lain. Jadi kau bisa mulai dari yang termudah. Berdo’a yang baik-baik bagi orang-orang di sekitar kau.
Bapak berjalan terus, sementara aku hampir terjatuh ke sawah dibuatnya. Kau dengar lagi kawan ! Apa yang diucapkan Bapakku. Ah, ingat bahwa Bapakku itu bukanlah seorang Ustadz apalagi Haji Doktor. Dia hanya seorang yang senang mendengar cerita anak-anaknya. Gemar meminum kopi setiap pagi, siang, sore bahkan malam hari. But, look at that. He is my superhero. Pahlawan yang berjuang lewat petuah Rasulullah.
Bapak sudah sekitar sepuluh langkah di depanku. Beliau sudah masuk kedalam lorong-lorong yang penuh sesak oleh jagung. Santai memilih yang terbaik. Setelah mampu mengejarnya dan sampai di lorong jagung terdepan, aku reflex langsung memetik membabi buta setiap jagung yang terlihat di depan mata. Namun, baru saja aku memetik lima jagung Bapak terpaksa menghentikan aksi bar-barku.
Pelan-pelan. Jagung  juga makhluk Tuhan, jadi jangan perlakukan mereka dengan semena-mena. Jika saja Gusti Allah mengizinkan agar kau bisa mendengar jeritan jagung-jagung ini, pasti kau akan kalang kabut dibuatnya. Jelas Bapak kepadaku, namun aku hanya menunjukkan senyum lebarku.
            Tak berapa lama kami pun selesai. Aku merasa bahwa galengan yang kami injak ini semakin kecil saja. Aku mulai kewalahan melewatinya, ditambah lagi dengan berat jagung yang  kubawa. Tersiksa sekali kawan. Kali ini aku yang berjalan di depan, memimpin Bapak yang berjalan di belakangku. Bapak hanya tertawa melihatku yang berjalan dengan terhuyung-huyung, bukannya membantu beliau malah mengingatkanku agar aku tidak melupakan pesan yang diberikannya padaku.
Dimana pun kau berada, tetaplah berdo’a untuk kebaikanmu dan orang-orang yang kau cintai Ucap beliau lugas. Aku membalasnya dengan anggukan mantap.
Akhirnya sampai juga kami di halaman rumah. Zira dan Mamak langsung membantuku, sementara Langit sibuk melampiaskan kemarahannya pada Bapak karena tidak diizinkan untuk ikut memetik jagung. Showtime. Pesta pun dimulai. Pedih. Sakit. Gatal sekali rasanya. Hebat nian efek yang dihasilkan asap ini. Sehingga mampu membuat Zira untuk menggunakan penutup mata saat membakar jagung-jagung itu. Dan selanjutnya bisa ditebak, jagung bakar yang dihasilkan adik perempuanku itu menjadi hitam legam. Alhasil Mamak pun mengomel panjang. Selesai Mamak menghakimi Zira karena ulahnya, jagung bakar pun siap dinikmati.
Dingin. Menyejukkan. Menghangatkan.
Angin yang lembut membelai kulit, sapaannya memberi ketenangan. Bintang yang tersenyum ramah, begitu terasa dekat. Keduanya seperti telah sepakat untuk ikut menemani kebersamaan kami malam ini. Zira dan Langit berlomba menghabiskan bagian masing-masing secepat mereka bisa mengunyahnya. Takut ada yang menjarah dan mengincar jagung dari tangan mereka. Dan akulah yang dianggap sebagai common enemy. Betapa kejam mereka berdua.
Tiba-tiba suasana hening sesaat, entah apa sebabnya. Aku melirik ke arah Bapak, dan dengan raut wajah santai berwibawa terlihat bahwa beliau ingin bercerita. Memecah kesunyian yang sempat melanda. Cerita beliau kali ini adalah cerita yang sama dengan minggu lalu, saat kami berkumpul di teras depan rumah. Yaitu cerita tentang burung pipit dan 3 anaknya. Sejujurnya aku bosan mendengar kisah itu, namun hal ini tidak berlaku bagi Langit. Adik laki-lakiku itu selalu saja bersemangat mendengarkan cerita Bapak.
Nah, jadi dari cerita itu sebenarnya Bapak punya pesan untuk kakak kalian Setelah mengakhiri ceritanya, kini giliran suara Mamak yang menggema. Ibu Suri tengah menyinggungku. Aku pun memasang wajah siap bertanya bercampur bingung.
Begini... Bapak angkat bicara, aku masih menunggu kelanjutannya.
Kalau nanti kau sudah berada di ibukota, belajarlah yang benar. Tidak ada yang sia-sia dalam hidup. Buat bangga Bapak Mamak kau ini, belajar bertanggung jawab untuk diri kau sendiri. Kami hanya bisa berdo’a, kaulah yang berusaha.”
Aku mengerti sekarang, itulah tujuan acara jagung malam ini.
..........................................................
Pukul 00.00 WIB
Kini, aku di dalam kamar kosku, ditemani tumpukan buku dan komputer pentium 4 ku. Merasa bahwa aku tidak sedang di sini sekarang. Aku seperti sedang menyaksikan dengan jelas semua adegan saat jagung malam 3 tahun yang lalu itu. Aku tergelitik untuk bertanya, mengapa Mamak sedikit sekali bicara malam itu. Setelah berpikir sejenak, aku menarik kesimpulan bahwa mungkin Mamak tidak sanggup mengucapkan kata perpisahan padaku. Dan selanjutnya Mamak mengalihkannya pada Bapak agar berbicara mewakili dirinya. Mamak. Ada-ada saja.
Aku yang saat ini tengah belajar ilmu filsafat, sangat tertolong dengan pengantar yang diberikan Bapak padaku pada acara jagung malam kala itu. Yang ternyata juga sejalan dengan pemikiran seorang tokoh besar filsafat, Sokrates. Saat Bapak mengutip ucapan Rasulullah bahwa hidup haruslah berguna bagi orang lain dan mulai mendo’akan orang yang dicintai, Sokrates pun mengatakan hal yang senada. Bahwa ho de aneksetastos bios ou biÒtos anthrÒphÒi, yang berarti hidup yang tidak bermakna adalah hidup yang tidak layak untuk di jalani.  
Tapi, detik ini aku sedih mendengar jawaban Mamak atas pertanyaan ku selama ini. Kenyataan memang selalu menyakitkan kawan, terkadang. Saat aku berkata bahwa aku ingin tahu alasan Mamak bersikap demikian, malam ini juga tubuhku lemas mendengarnya.
Waktu itu Mamak banyak diam bukan berarti Mamak sedih. Mamak hanya bingung memikirkan siapa nanti yang akan menggantikan kau mencuci piring-piring kotor dirumah ini, baju-baju apek yang telah dipakai. Kalau kau pergi, siapa yang akan mengerjakan semua itu ?
Tuuuuttt........tuuuuuutttt......tuuuuuuttttt.....
Pulsaku habis.